Jangan Lupa Sejarah Desamu !

Thursday, March 5, 2015

On 11:35:00 PM by admin in ,    No comments

Kini telah tiba saatnya
HULTAH NWDI nan jaya
Dengan izin Yang Maha Kuasa
Kita dapat merayakannya

79 tahun usianya
Di tanah Selaparang lahirnya
Berjuang dengan bukti nyata
Membina ummat beragama

Mari sambut bersama Hari yang sangat mulia
Hultah NWDI yang tercinta  2 X
Dengan syukur yang tiada terhingga
Serta dengan kesucian jiwa   2 X

Nahdlatul Wathan berhaluan
Islam Ahlussunnah waljamaah
Serta mengambil ketentuan
‘Ala Madzhabisysyafi’iyah

Hamzanwadi Pencipta Hamzanwadi pembina
Putra Selaparang semangat baja 2 X
Harus dikenang jasa amalnya
Pesan wasiat jangan dilupa 2 X

Mari kita sama berdoa
kehadirat yang maha kuasa
Semoga dengan limpah kurnianya
NWDI daaiman abada

Monday, January 12, 2015


Bismillahiwabihamdihi

TGKH. MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MAJID telah terkenal jauh sebelum kita lahir, selain karena keberhasilan Beliau memberi pencerahan kepada masyarakat sasak lombok, karena Bliau juga selalu mendapat sanjungan khusus dari para guru-guru Beliau dari Makkatuk Mukarromah, seperti Syaikh Hassan Muhammad Al-Masysyath, Syikh Sayyid Muhammad Amin Al-Kutbhi, Syaikh Salim Rahmatullah, dll. Sehingga Beliau banyak mendapat gelar/ panggilan kebanggaan.

Disamping gelar-gelar yang datang dari Guru besar Beliau, ada juga gelar-gelar/ panggilan yang datang dari Murid Beliau, salah satunya adalah "Maulana Syaikh". Lalu siapakah yang pertama kali memanggil TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dengan sebutan "Maulana Syaikh"?

Menurut cerita yang al-faqir dengar dari salah seorang putra Masyaikhul Ma'had Darul Qur'an Wal Hadits Al-Majidiyyah Asy-Syafiiyah Nahdlatul Wathan, TGH. Zaini Abdul Hanan, Lc., MPdI, yaitu Ustaz Hassan Zaini, Q.H., MKomI. Beliau menceritakan kepada al-faqir tentang keterangan langsung dari TGH. Mahmud Yasin yang mengatakan pada waktu pengajian umum Ma'had DQH NW bahwa Beliaulanglah orang yang pertama kali memanggil Al-Magfurulah dengan sebutan "Maulana Syaikh" dengan alasan "karena TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid telah terbukti mencetak banyak kader yaitu dengan banyaknya murid-murid Beliau yang menjadi tokoh agama dan tokoh masyarakat di tempat masing-masing.

Jika ada yang dari para pembaca yang tahu tambahan informasi tentang ini, mohon meninggalkan komentar. Wallahu a'lam.

Wallahulmuwaffiqu walhadi ila sabilirrasyad

Sunday, November 16, 2014

NAHDLATUL WATHAN DALAM "TAMBAHAN BERITA NEGARA RI" 1960
Bismillahiwabihamdihi

Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa Ilaha Illallah, Allahu Akbar....
Al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid adalah  seorang ulama' karismatik yang telah terbukti berhasil menerangi wajah bumi Lombok dari aura hindu bali menjadi masyarakat islami. Sejak Pulang dari tanah suci Makkah, Pendiri NAHDLATUL WATHAN yang juga dikenal dengan gelar Abu Rauhun Wa Raihanun ini telah menyirami bumi Lombok dengan dakwah islam yang dimana Lombok ini telah ditanam bibit islamnya oleh salah seorang Wali Songo yaitu Maulana Malik Ibrahim.

Setelah memiliki banyak jamaah Bliau pun mulai mendirikan Santren Darul Mujahidin, yang menjadi cikal-bakal NWDI, NBDI dan NAHDLATUL WATHAN. Setelah Bliau mendirikan NW, ternyata Beliau tidak hanya mengurus jamaah nahdliyin yang telah menantinya di setiap pengajian. Bahkan Beliau juga secara administratif telah mendaftarkan NAHDLATUL WATHAN di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Hal itu Beliau tempuh dengan mendaftarkan Nahdlatul Wathan kepada Menteri Kehakiman (sekarang-Kementrian Hukum dan HAM) terbukti dengan adanya Penetapan Menteri Kehakiman Tanggal 17 Oktober 1960 No.J.A.5/105/3  dan Tambahan Berita Negara R.I. (FOTO DI ATAS) Tanggal 8-11-1960 No.90.

Dengan Dasar itulah sampai saat ini NAHDLATUL WATHAN tetap berjaya sebagai organisasi yang sah secara de facto dan de jure. Terbukti dengan telah berlangsungnya Muktamar sebagak 14 kali, satu di ataranya adalah Muktamar Kilat Istimewa.
Berikut Urutan Muktamar NAHDLATUL WATHAN:
  1. Muktamar I tanggal 22 – 24 Agustus 1954 di Pancor Lombok Timur;
  2. Muktamar II tanggal 23 – 26 Maret 1957 di Pancor Lombok Timur;
  3. Muktamar III tanggal 25 – 27 Januari 1960 di Pancor Lombok Timur;
  4. Muktamar IV tanggal 10 – 14 Agustus 1963 di Pancor Lombok Timur;
  5. Muktamar V tanggal 29 Juli – 1 Agustus 1966 di Pancor Lombok Timur;
  6. Muktamar VI tanggal 24 – 27 September 1969 di Mataram Lombok Barat;
  7. Muktamar VII tanggal 30 Nopember – 3 Desember 1973 di Mataram Lombok Barat;
  8. Muktamar Kilat Istimewa tanggal 28 – 30 Januari 1977 di Pancor Lombok Timur;
  9. Muktamar VIII tanggal 24 – 25 Pebruari 1986 di Pancor Lombok Timur;
  10. Muktamar IX tanggal 3 – 6 Juli 1991 di Pancor Lombok Timur;
  11. Muktamar X tanggal 24 – 26 Juli 1998 di Praya Lombok Tengah;
  12. Muktamar XI tanggal 14 – 16 Agustus 2004 di Anjani Lombok Timur;
  13. Muktamar XII tanggal 29 – 31 Juli 2009 di Anjani Lombok Timur;
  14. Muktamar XIII tanggal 3 – 5 Mei 2014 di Mataram.
Dengan demikian, selaku Pendiri, Al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam organisasi ini, tentunya Bliau menaruh harapan besar kepada para penerus Beliau untuk terus memperjuangkan cita-cita Beliau memperjuangkan islam melalui Nahdlatul Wathan.

NAHDLATUL WATHAN ciptaan Ayahda
Ku amanatkan kepada Anakda
Dipelihara dan terus dibina
dan dikembangkan di Nusantara

Azas NW jangan diubah
Sepanjang masa sepannjang sanah
Sunnah jamaah dalam akidah
Mazhab Syafii dalam Syariah

Organisasi ada imamnya
Pengurus Besar (PB) namanya
Wajib ditaati instruksinya
Selama berjalan menyelamatkannya

Bahwa PB adalah SATU
bukannya dua bukannya telu
Atas Pimpinan PB yang SATU
Dewan Mustasyar Pemberi Restu

(Kutipan Wasiat Pendiri NW)

Wallahu a'lamu bisshawaab..
Wallahulmuwaffiqu walhadi Ila sabilirrasyad

Monday, August 18, 2014


Al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid selaku Ummu Rauhun wa Raihanun sekali gus pendiri Organisasi Kemasyarakatan Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat berkata: "Raihanun Zino Pepadu Datok Majid" yang artinya andalah dari Ayahanda Beliau atau Kakek dari Rauhun dan Raihanun itu sendiri.
Mungkin banyak yang bertanya dalam hati, apa penyebab stetmen itu keluar atau kenapa bukan Rauhun..?
Pasti banyak pelaku sejarah yang masih hidup yang mampu menjawabnya, namun apakah masih bernyali untuk menjelaskannya tau tidak.
Semoga ada Pelaku Sejarah yang berkenan menjelaskan yang sebenarnya terjadi tentang histori Nahdlatul Wathan pada umumnya, sehingga NW ini tidak meninggalkan kesan-kesan yang salah atau tidak sesuai dengan kebenaran atau yang diinginkan oleh Pendiri NW sendiri.

Saturday, August 16, 2014

Drs. H. Lalu Gede Wira Sentana bersama Pendiri NW dan anak emas

Bismillahiwabihamdihi
 
"Pokoknya, NW; Pokok NW, Iman dan Taqwa"
Itulah yang paling sering kita dengar dari warga dan pejuang Nahdlatul Wathan. Tapi suatu ketika, Al-Fakir mendengar bahwa yel-yel itu justeru pertama kali bukan dicetuskan oleh Pendiri NW. Lalu kalau begitu siapakah yang menggagas yel-yel tersebut?

Ternyata orrang yang pertama kali mencetuskan yel-yel tersebut adalah seorang yang tegak teguh pendiriannya, yakni Drs. H. Lalu Gede Wira Sentana, menantu Al-Magfurulah Maulana Syaikh yang dikawinkan dengan putri Beliau Hj. Sitti Raihanun Zainuddin AM.

Bermula dari pesarta kegiatan Mosba/Master/ Ospek Mahasiswa baru IAIH NW semasa di Pancor dulu, yang pada saat itu meminta tanda tangan kepada Drs. H. Lalu Gede Wira Sentana, sebelum memberi tanda tangan, Beliau sebagaimana biasanya memberikan wejangan yang menyangkut perjuangan, sehingga pada saat itu Beliau menyampaikan pesan: "Dimana pun kalian berada hendaklah membawa semangat juang Nahdlatul Wathan" seraya berkata kepada mahasiswa peserta Mosba "POKOKNYA, NW" dan ketika itu juga, Al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang saat itu sedang berada dekat dari tempat berkumpulnya para mahasiswa baru yaitu di tempat istirahat beliau melanjutkan, POKOK NW, IMAN DAN TAQWA. Sehingga sejak itu lengkaplah yel-yel Nahdlatul Wathan "POKOKNYA NW, POKOK NW IMAN DAN TAQWA" yang selanjutnya yel-yel tersebut didengungkan oleh santri Nahdlatul Wathan dan meluas sampai pengurus bahkan warga Nahdlatul Wathan pada umumnya. Sampai saat ini pun yel-yel tersebut masih tetap diingatkan oleh Ketua Umum PBNW, Ummuna Hj. Sitti Raihanun Zainuddin AM.

Demikian cerita singkat yang Al-Fakir dengar dari salah seorang khadam senior di Nahdlatul Wathan, Al-Ustaz Nasrun.

Wallahu a'lamu bisshawaab.
Wallahulmuwaffiqu wal hadi ila sabilirrasyad

Sunday, August 10, 2014














DADEN TGB KH. MUHAMMAD ZAINUDDIN ATSANI
ZAINUDDIN KE-2
PENERUS PERJUANGAN MAULANA