Jangan Lupa Sejarah Desamu !

Showing posts with label Karamah Maulanasyaikh. Show all posts
Showing posts with label Karamah Maulanasyaikh. Show all posts

Saturday, April 23, 2016

Biji Tasbih itu Terus Berputar

Cerita ini berasal dari Raden TGB. H. L. G. Muhammad Zainuddin Ats-Tsani. Dia adalah cucu kesayangan al-Magfurulah Maulanasyaikh. Kecintaan maulanasyaikh kepadanya dengan terlihat dari nama Zainuddin Ats-Tsani yang berarti "Zainuddin Kedua" diwariskan langsung kepadanya. Bahkan sejak masih kanak-kanak Maulana Syaikh telah memanggilnya dengan Tuan Guru Bajang.
Pada masa kanak-kanak, RTGB. H. L. G. Muhammad Zainuddin Ats-Tsani seringkali diperintahkan oleh maulanasyaikh untuk memijit kaki beliau. TGB tidak pernah meninggalkan kamar tidur maulanasyaikh kecuali beliau sendiri yang mengatakan telah cukup. Seringkali ia tertidur di bawah kaki Maulana syaikh sampai fajar menjelang. Satu hal yang selalu membuat TGB takjub adalah meskipun telah tertidur pulas, biji tasbih di tangan beliau senantiasa berputar. Hal itu berarti meski tertidur Maulana Syaikh tetap berdzikir. Sebab hati beliau tidaklah tertidur meski mata beliau terpejam. Cerita ini disampaikan oleh RTGB dalam Irsyadat Wattawjihad Shilaturrahmi Pegawai YPPPSZ NW Anjani di Wisma Dewi Anjani (02/04/15).
Cerita lainnya diceritakan oleh beberapa orang Mutakharrijin Ma’had DQH NW. Salah satunya adalah kesaksian thullab Ma’had generasi awal yang mendapat pengajaran langsung dari beliau seperti TGH. L. Anas Hasyri, QH., TGH. Mahmud Yasin, QH (Alm.) dan TGH. Hilmi Najamuddin, QH dalam pengajian-pengajian selama penulis menimba ilmu di MDQH NW Anjani, bahwa maulana syaikh senantiasa berdzikir dalam keadaan apapun. Hal ini terlihat dari keseharian beliau yang tidak pernah melepaskan biji tasbih beliau kecuali dalam keadaan terttentu yang tidak memungkinkan untuk itu. Bahkan ketika beliau menjelaskan pelajaran di Ma’had atau dipengajian manapun biji tasbih yang beliau pegang akan senantiasa berputar yang berarti beliau tetap berdzikir dengan hati (dzikir sirr) meski lisan beliau sedang berbicara.

Saturday, April 16, 2016

Pada pagi itu,  semua jalan yang menuju kebun ayu dari segala penjuru dipagar betis. Dijaga ketat oleh aparat  berseragam lengkap dengan senjata. Entah berapa banyaknya tak dapat dihitung. Konon ada instruksi kalau ada mobil putih itu lewat harus dicegat, kalo tidak mau dicegat tembak bannya.


Memang sejak malamnya, aparat sudah berkeliaran di Kebun Ayu dan sekitarnya. Mereka berusaha menggagalkan pengajian silaturahmi Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid di Madrasah NW Kebun Ayu. Maulanasyaikh yang sudah menerima laporan dari jamaah tentang suasana yang mencekam itu, mengaskan ; ‘’biar diledakkan bom di Kebun Ayu pengajian jalan terus."

Demikianlah, setelah jarum jam menunjukkan angka 10.30 melajulah dengan tenang mobil putih (mobil setengah abad) yang beliau tumpangi di depan aparat yang  berjejer di pinggir jalan di pertigaan jalan menuju Kebun Ayu. Sewaktu melihat mereka, Maulanasyaikh tiba-tiba berkata : ‘’Ni Tuan Guru Bajang Lawan’’, sembari melirik kepada Cucunya Lalu Gede Muhammad Zainuddin Ats-Tsani yang waktu itu baru berumur 8 tahun.
Ajaib, mereka yang berjejer di pinggir jalan itu tidak ada yang menegur dan tidak ada yang menyapa. Semua berdiri seperti patung. Demikian juga setelah sampai Kebun Ayu tampak banyak sekali aparat yang berjaga-jaga, semuanya membisu. Akhirnya sampailah Maulana Syaikh di lokasi pengajian, yaitu di Madrasah Ibtidaiyah NW KEBUN AYU.

Sewaktu kendaraan belok kiri menuju gang madrasah, pengusaha desa tiba-tiba membuang jaketnya ke tengah jalan karena sangat kesal akibat usahanya yang gagal total.
Maka berlangsunglah pengajian dengan tertib dan aman. Demikian cerita sopir Maulana Syaikh dan pengurus Madrasah NW KEBUN AYU.

(Dikutip dari buku: "Orang Maroko Itu Sembuh di Lombok Kumpulan Keramat Maulana Syaikh TGKH. MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MAJDID", yang ditulis oleh Mantan Sekjen PBNW, Drs. TGH. Abdul Hayyi Nukman, MM.)

On 5:52:00 PM by LombokFamilyConsulting in , ,    No comments

Pada suatu pagi, datanglah berkunjung kepada Maulana Syaikh TGKH.MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID seorang murid dari Kembang Kerang Lombok Timur. Sang murid menyampaikan  maksud kedatangannya seraya berkata : ‘’saya sudah bernazar kalau dikaruniai anak laki-laki, saya akan mencukurnya di maqam Datok Badar di depan mimbar Masjid Pancor. 

Alhamdulillah telah lahir anak saya laki-laki. Untuk itu saya memohon kesediaan Maulana Syaikh untuk mencukur anak saya itu”.
Beliau langsung menjawab. “ya mari kita berangkat’’.
’’tetapi hujan mulai turun, Maulana Syaikh”, kata sang murid.
 ‘’mengapa kau takut pada hujan, mari kita berangkat’’, tegas beliau.
Lalu berangkatlah Maulana Syaikh diiringi sang murid berjalan kaki tanpa menggunakan payung. Ketika sampai di perempatan Pancor, turunlah hujan dengan lebatnya bagaikan ditumpahkan dari langit.
Waktu itu tampaklah salah satu kekeramatan Maulana Syaikh sebagai Waliyullah. Maulana Syaikh bersama murid tidak ada yang basah meskipun diguyur hujan yang sangat lebat itu. Sang murid itu adalah H. Zainuddin dan bayi yang dicukur itu, kini kita kenal dengan nama TGH. M. RUSLAN ZAIN AN-NAHDLI, salah seorang masyaikh Ma'had DQH NW ANJANI, alumni Madrasah shaulatiyyah Makkah al-Mukarramah yang masyhur itu.

(Dikutip dari buku: "Orang Maroko Itu Sembuh di Lombok Kumpulan Keramat Maulana Syaikh TGKH. MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MAJDID", yang ditulis oleh Mantan Sekjen PBNW, Drs. TGH. Abdul Hayyi Nukman, MM.)
Adalah seorang nahkoda bernama Ladini Rasyidi, pada suatu hari memulai pelayaran dari Sulawesi menuju Surabaya.
Di tengah laut lepas kapalnya diserang badai. Hujan turun sangat lebat. Angin topan betiup menderu-deru sangat kencang. Gelombang menggunung bergulung-gulung. Suara petir menggelegar sambung menyambung. Kilat tidak henti-hentinya menyambar. Suasanapun gelap gulita. Mesin kapal macet dan nahkodapun kehilangan arah. Sangat menyeramkan. Kemudian kapal itu dibawa arus berhari-hari, terombang-ambing dimainkan gelombang. Akhirnya anak buah kapal kehabisan bekal. Mereka kehilangan tenaga bahkan ada yg pingsan. Mereka pasrah kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Dalam suasana mencekam seperti itu, naiklah Ladini Rasyidi sang nahkoda ke atas geladak kapal. Di situlah dia berdoa dengan khusyuk. Tiba-tiba kelihatanlah seorang berperawakan sangat besar dan tinggi  memakai jubah dan sorban warna putih terbang dari arah timur menuju nahkoda. Semakin dekat orang yang berjubah itu kelihatan semakin kecil dan setelah sampai di depan sang nahkoda, orang berjubah itu Nampak seperti perawakan manusia biasa ramping dan tinggi dengan alis putih. Kemudian orang berjubah itu mengajar sang nahkoda sebuah doa.
Sesudah doa itu dibacakan oleh nahkoda, orang berjubah itu menghilang dengan meninggalkan pesan ‘’nanti kalau ada kelihatan benda selain air segeralah menuju ke sana!’’.
Tidak lama kemudian di kejauhan nampaklah  sebuah tongkat tertancap di tengah lautan. Dengan segala macam cara mereka berusaha mendekati tongkat itu. Setelah mendekat, tiba-tiba tongkat itu berubah menjadi daratan. Ajaibnya , daratan itu adalah tempat kampung halaman sang nahkoda. Alhamdulillah mereka selamat.

Beberapa tahun kemudian, Ladini Rasyidi secara kebetulan bertamu dirumah seseorang berasal dari Pulau Lombok yang merantau ke Banjarmasin, namanya Safaruddin. Rumah orang itu tidak begitu jauh dengan rumah Ladini Rasyid. Di ruang tamu, Ladini terperanjat melihat foto  yang terpampang yang sama persis dengan orang tua berjubah yang telah menolongnya ketika tertimpa musibah di tengah laut itu. Ternyata itu adalah foto Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid. Maka bertanyalah dia tentang Maulana Syaikh. Sejak saat itu dia berencana untuk menziarahi Beliau di Lombok.

Kemudian setelah beberapa tahun, pergilah dia ke Lombok menziarahi Maulana Syaikh sekaligus menyerahkan anaknya, Muhammad Ali untuk belajar di sana.
“yang sangat mengherankan bagi saya, poda pertemuan pertama kali itu, Maulana Syaikh setelah menjawab salam saya langsung bertanya kepada saya ; bagaimana cerita yang dulu itu?’’ kata Ladini Rasyid mengakhiri ceritanya kepada TGH. Lalu anas Hasyri, QH. seorang Murid Maulana Syaikh  Alumni Maderasah Shaulatiyyah Makkah, dan salah seorang Masyaikh MDQH NW ANJANI ketika berkunjung ke rumahnya di Banjarmasin.

(Dikutip dari buku: "Orang Maroko Itu Sembuh di Lombok Kumpulan Keramat Maulana Syaikh TGKH. MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MAJDID", yang ditulis oleh Mantan Sekjen PBNW, Drs. TGH. Abdul Hayyi Nukman, MM.)

On 5:29:00 PM by LombokFamilyConsulting in , ,    1 comment
ORANG MAROKO ITU SEMBUH DI LOMBOK

Adalah seorang wanita muslimah asal Maroko tinggal bersama kakak laki-lakinya bernama Din Paris. Kakaknya itu bekerja di sebuah maskapai  penerbangan.
Pada suatu waktu, wanita itu ditimpa penyakit aneh. Dia tidak bisa melihat manusia, tetapi selain manusia bisa dilihatnya dengan jelas sedangkan pendengarannya masih normal. Kakaknya yang juga menganut Agama Islam itu telah membawa adiknya berobat kemana-mana.
Ada empat Negara yang sudah mereka kunjungi  untuk berobat termasuk Amerika, tetapi penyakit aneh itu tidak kunjung sembuh. Maka berencanalah sang kakak mencari  paranormal, lalu pergilah mereka ke Thailand dan ikut pula bersama mereka seorang beragama nasrani  yang menjadi stafnya di Kantor Maskapai Penerbangan di Paris. Di Bangkok mereka menginap disebuah Hotel di luar kota. 
Pada suatu sore mereka keluar hotel untuk mencari paranormal. Ditengah jalan mereka bertemu dengan seorang petani berpakaian lusuh dan bertopi robek membawa bajak. Sang kakak bertanya kepada orang itu.: ‘’dimanakah ada paranormal disini?’’ lalu dia menjelaskan penyakit adiknya. Orang itu berkata: ‘’berobatlah pada orang ini di Lombok”, sambil memperlihatkan selembar foto. Foto itu langsung diambilnya dan ketika dia memperhatikan foto itu, tiba-tiba hilanglah orang itu.
Kemudian bertolaklah mereka ke Indonesia dan mendarat di bandara Ngurah Rai Denpasar.
Di bandara mereka bertemu dengan penjual Es, Akmaludin namanya, berasal dari Kembang Kerang Lombok Tengah.
Sang kakak bertanya : ‘’kenalkah engkau dengan orang ini?’’, sambil memperlihatkan foto itu. “O, ini adalah foto Guru saya’’, jawab akmaludin. Orang itu kelihatan ragu-ragu, lalu penjual es itu mengajak mereka ke tempat kosnya. Setelah sampai dia langsung mengambil foto Maulana Syaikh yang persis sama dengan yang dipegang oleh orang itu, lalu ditunjukan kepada mereka. Maka yakinlah mereka. Lalu mereka mengajak Akmaluddin ke hotel. Di Hotel mereka merencanakan keberangkatan ke Lombok .
‘’Kalau kita berkunjung ke Guru saya, wanita harus berjilbab’’. Kata Akmaluddin.
Sesudah wanita itu dibelikan jilbab maka berangkatlah mereka ke Lombok dan mendarat di Bandara Selaparang Mataram. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan singgah sebentar pada keluarga Akmaluddin di Kembang Kerang. Selanjutnya mereka berangkat ke tempat kediaman Maulana Syaikh di Lombok Timur.
Sesudah sampai, kakak beradik itu diterima langsung oleh Maulana Syaikh, sedangkan yang beragama Nasrani menunggu di luar.
Maulana Syaikh mengobati orang itu dengan do’a dan sebotol minuman dan orang itu Beliau suruh mengamalkan Wirid singkat. Orang yang sakit itu langsung meminum air itu sedikit sekaligus membasuh mukanya. Setelah pamitan mereka berangkat menuju Kuta Lombok Tengah. Sesampai di Kuta mereka masuk Hotel. Di hotel itulah wanita maroko yang sakit itu kembali meminum air dari Maulana Syaikh itu dan membasuh wajahnya. Dengan izin Allah Yang Maha Kuasa orang itu langsung sembuh. Dia bisa kembali melihat manusia. Karena luapan gembiranya dengan tiada disengaja dia langsung merangkul Akmaludin  yang telah berjasa membawanya ke hadapan Maulana Syaikh TGKH.MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID, sehingga dia sembuh dari penyakit yang sudah lama dideritanya itu.
Demikianlah penuturan TGH. Hayatuddin, BA. Salah seorang murid Maulana Syaikh yang berdomisili di Kembang Kerang Lombok Tengah. Dia adalah paman dari akmaluddin.

(Dikutip dari buku: "Orang Maroko Itu Sembuh di Lombok Kumpulan Keramat Maulana Syaikh TGKH. MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MAJDID", yang ditulis oleh Mantan Sekjen PBNW, Drs. TGH. Abdul Hayyi Nukman, MM.)